Selasa, 03 Januari 2012

al-qur'an, hadits qudsi dan wahyu

BAB I AL – QUR’AN A. Definisi Al – Qur’an Qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun. Qira’ah berarti menghimpun huruf - huruf dan kata - kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi. Para Ulama’ menyebutkan definisi Al – Qur’an yang mendekati maknanya dan membedakannya dari yang lain, karena sebagian dari Ulama’ banyak yang berpeda pendapat dengan menyebutkan bahwa : Qur’an adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Yang pembacaannya merupakan suatu Ibadah. B. Nama dan Sifatnya 1. Nama A – Qur’an  Al – Qur’an      Al – Kitab         Al – Furqon   •      •   Ad – Dzikr   •       At – Tauzil     • Al – Qur’an dan Al - Kitab adalah nama yang paling populer. Menurut Dr. Muhammad Abdllah Daraz : Ia dinamakan Qur’an karena dibaca”dengan lisan”. Dinamakan Al - Kitab karena ia “ditulis” dengan pena. Kedua nama ini menunjukkan makna yang sesuai kenyataannya. 2. Sifat - sifat Al - Qur’an  Nur (Cahaya)  ••            Huda (Petunjuk)  Syifa’ (Obat)  Rahmah (Rahmat)  Mauidzoh (Nasehat)  ••   •            Mubarak (Yang diberkati)         •  Busyra (Kabar gembira)          Aziz (Mulia) •            Majid (Dihormati)       Basyir (Pembawa kabar gembira & Nadzir (Pembawa peringatan)           C. Perbedaan antara Al – Qur’an dan Hadist Qudsi Al- Qur’an lebih utama dibandingkan dengan Hadist Qudsi karena Redaksionalnya diwahyukan atau langsung dari Allah. Sedang Hadist Qudsi diriwayatkan oleh para perawi yang Kredibel yang didapatkan dari Rasulullah. Rasulullah SAW mendapatkannya dari Allah melalui perantara Jibril atau Wahyu, Ilham, atau mimpi. Redaksi dari Hadist Qudsi itu diserahkan sepenuhnya kepada Rasulullah dengan menggunakan berbagai ucapan bahasa yang dikenal oleh manusia. Didalam kitab “Taisir Mushtholahul Hadist” karangan dari dr. Mahmoud At - Thohan disebutkan bahwa ada tiga perbedaan antara Al – Qur’an dan Hadist Qudsi, yaitu : 1) Al-Qur’an lafadz dan maknanya dari Allah. Sedang Hadist Qudsi maknanyan dari Allah redaksi dan lafadznya dari Nabi. 2) Al-Qur’an pembacaannya dianggap Ibadah sedangkan Hadist Qudsi tidak demikian. 3) Al-Qur’an disyaratkan harus mutawatir sedangkan Hadist Qudsi sebaliknya. Banyak perbedaan antara Al-Qur’an dan Hadist Qusdi, tetapi perbedaan yang paling dikenal adalah yang sudah disebutkan diatas. D. Perbedaan Hadist Nawawi dengan Hadist Qudsi Hadist Nabawi itu ada dua : Tauqifi yang bersifat Tauqifi, yaitu yang kandungannya diterima oleh Rasulullah SAW dari Wahyu, lalu ia menjelaskan kepada manusia dengan kata-katanya sendiri. Bagian ini, meskipun kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi dari segi pembicaraan lebih layak dinisbahkan kepada Rasulullah SAW, sebab kata-kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya, meskipun didalamnya terdapat makna yang diterima dari pihak lain. Taufiqi yang bersifat Taufiqi, yaitu yang disimpulkan oleh Rasulullah menurut pemahamannya terhadap Qur’an, karena ia mempunyai tugas menjelaskan Qur’an atau menyimpulkannyadengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulan yang bersifat ijtihad ini diperkuat oleh Wahyu bila ia benar. Dan bila terdapat kesalahan didalamnya, maka turunlah Wahyu yang membetulkannya. Bagian ini bukanlah kalam Allah secara pasti. Dari sini jelaslah bahwa Hadist Nabawi dengan kedua bagiannya yang Tauqifi dan Taufiqi dengan ijtihad yang diakui oleh Wahyu itu bersumber dari Wahyu. Dan inilah makna dari firman Allah tentang Rasul kita Muhammad SAW :            “Dia (Muhammad) tidak berbicara menurut Hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diturunkan kepadanya.” (an-Najm [53]:3-4) Hadist Qudsi itu maknanya dari Allah, ia disampaikan kepada Rasulullah SAW Melalui salah satu cara penurunan wahyu; sedang lafadznya dari Rasulullah SAW, inilah pendapat yang kuat. Dinisbahkannya Hadist Qudsi kepada Allah Ta’ala adalah nisbah mengenai isinya, bukan nisbah mengenai lafadznya. Sebab seandainya Hadist Qudsi itu lafadznya juga dari Allah, maka tidak ada lagi perbedaan antara Hadist Qudsi dengan Qur’an; dan tentu pula gaya bahasanya menuntut untuk ditentang, serta membacanya pun dianggap Ibadah. Mengenai hal ini timbul dua macam ketaskaan (Syubhah) : Pertama : Bahwa hadist Nabawi ini juga wahyu secara maknawi yang lafadznya dari Rasulullah SAW. Tetapi mengapa hadist Nabawi tidak kita namakan juga hadist Qudsi? Jawabnya ialah bahwa kita pasti merasa tenang hadist Qudsi bahwa ia diturunkan maknanya dari Allah karena adanya nas syara’ yang menisbahkannya kepada Allah; yaitu kata-kata Rasulullah SAW. Allah Ta’ala telah berfirman atau Allah Ta’ala berfirman. Itu sebabnya, kita namakan hadist itu hadist Qudsi. Hal ini berbda dengan hadist-hadist Nabawi, karena hadist Nabawi itu tidak memuat nas seperti ini. Disamping itu masing-masing isinya boleh jadi diberitahukan (kepada Nabi) melalui Wahyu (yakni secara tauqifi) namun mungkin juga disimpukan melalui ijtihad (yaitu secara taufiqi. Dan oleh sebab itu, kita namakan masing-masing dengan Nabawi sebagai terminal nama yang pasti. Seandainya kita mempunyai bukti untuk membedakan nama Wahyu Tauqifi, tentulah Hadist Nabawi itu kiota namakan pula Hadist Qudsi. Kedua : Bahwa apabila lafadz Hadist Qudsi itu dari Rasulullah SAW maka dengan alasan apakah Hadist itu dinisbahkan kepada Allah melalui kat-kata Nabi “Allah Ta’la telah berfirman” atau “Allah Ta’ala berfirman?”. Jawabannya adalah bahwa hal demikian ini biasa terjadi dalam bahasa Arab, yang menisbahkan kalam berdasarkan kandungannya, bukan berdasakan lafadznya. Misalnya, ketika kita mengubah sebait syair menjadi prosa, kita katakan “si penyair berkata demikian”. Juga ketika kita menceritakan apa yang kita dengar dari seseorang, kita pun mengatakan “si fulan berkata demikian”. Begitu juga Qur’an menceritakan tentang Musa, Fir’aun dan sebagainya, isi kata-kata mereka dengan lafadz yang bukan lafadz mereka dan dengan gaya bahasa yang bukan pula gaya bahasa mereka, tetapi dinisbahkan kepada mereka. BAB II WAHYU A. Definisi Wahyu Dikatakan Wahaitu ilaih dan Auhati, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu secara Etemologi dari kata Masdar (Infinitif) Al – Wahy (  ). Kata itu berarti suara, api dan kecpatan. Di samping itu, ia juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan, dan kitab. Sedang Wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara Terminologi didefinisikan sebagai “Kalam Allah yang dturunkan kepada seorang Nabi”. Definisi ini menggunakan pengertian Maf’ul, yaitu Al - Muha (yang diwahyukan). Dalam kata wahyu dengan demikian mengandung arti penyampaian sabda Tuhan kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada umat manusia untuk dijadikan pegangan hidup. B. Cara Turunnya Wahyu Ada 2 cara, pertama tanpa melalui perantaraan, daiantaranya ialah : Mimpi yang benar dalam tidur. Hal itu merupakan persiapan bagi Rasulullah untuk menerima Wahyu dalam keadaan sadar (tidak tidur). Mimpi yang benar itu juga dialami oleh Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya Isma’il. Yang lain ialah kalam Ilahi dari balik tabir. Yang demikian itu terjadi pada Nabi Musa a.s. Kedua melalui Jibril, Malaikat pembawa Wahyu. Ada dua cara penyampaian Wahyu oleh Malaikat kepada Rasul : Cara pertama: Datang kepadanya suara seprti dentingan suara lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor - faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat buat Rasul. Apabila Wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal, memahaminya. Dan suara itu mungkin sekali suara kepekaan sayap – sayap para Malikat, seperti diisyaratkan didalam Hadist : •• “Apabila Allah menghendaki suatu urusan dilangit, maka para Malikat memukul - mukulkan sayapnya, karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemerincingnya mata rantai diatas batu - batu yang licin”. Dan mungkin pula suara Malikat itu sendiri pada waktu Rasul pada mendengarnya untuk yang pertama kali. Cara kedua : Malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki - laki dalam bentuk manusia. Cara yang demikian itu lebih ringan dari cara yang sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar. Kata Ibnu Khaldun : Dalam keadaan yang pertama Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungan dengan Malaikat yang yang sifanya rohani. Sedang dalam keadaan lain sebaliknya Malaikat berubah dari yang rohani semata menjadi manusia jasmani. Keduanya itu tersebut dalam Hadist yang diriwayatkan oleh AisyahUmmul Mukminin r.a. bahwa Haris bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal itu. Dan jawab Nabi : “Kadang - kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan terkadang Malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki - laki, lalu ia berbicara kepadaku, dan akupun memahami apa yang dia katakan”. (Hadist Bukhari) Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami oleh Rasulullah SAW berupa kepayahan, dia berkata : Aku pernah melihatnya tatkala Wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang sangat dingin. Lalu Malikat itu pergi, sedang keringatpun mengucur dari dahi Rasulullah SAW. (Hadist Bukhori). Adapun Hadist Rasulullah SAW mengenai hembusan didalam hati dalam bentuk Ilham mungkin dapat dikembalikan kepada salah satu dari dua keadaan yang tersebut dalam Hadist Aisyah. Mungkin Malaikat datang kepada beliau dalam keadaan yang menyerupai dencingan lonceng, lalu dihembuskan Wahyu kepadanya. Dan kemungkinan pula bahwa Wahyu yang melalui hembusan itu adalah Wahyu selain Qur’an. Demikian ini menurut Manna Khalil al-Qattan. Harun Nasution, didalam bukunya “Akal dan Wahyu dalam Islam” menyimpulkan bahwa ada tiga cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dan nabi-nabi. Cara pertama melalui jantung hati seseorang dalam bentuk Ilham, kedua dari belakang tabir sebagai yang terjadi dengan Nabi Musa, dan ketiga melalui utusan yang dikrimkan dalam bentuk Malaikat. Ayat menjelaskan demikian :        •                  Tor Andrae, kaum Orientalis, menjelaskan bahwa terdapat dua bentuk Wahyu, pertama Auditory (Wahyu yang diterima melalui pendengaran) dan kedua (Wahyu yang diterima melalui penglihatan). Mengenai kalam Allah kepada para Malaikat-Nya ada nas-nas didalam Al-Qur’anul Karim dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para Malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh Malaikat itu. Adapu cara turunnya Wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril terdapat perbedaan pendapat dikalangan para Ulama’ : A. Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Alah dengan lafadznya yang khusus. B. Bahwa Jibril menghafalnya dari Lauhul Mahfudz C. Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafadznya adalah lafadz Jibril atau Muhammad SAW. Pendapat pertama itulah yang benar, dan pendapat itu yang dijadikan pegangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. C Keraguan Orang-orang yang Ingkar terhadap Wahyu 1. Orang yang Jahiliyyah, dahulu dan sekarang mengira bahwa Qur’an bukanlah wahyu. Qur’an dari pribadi Muhammad, Muhammad menciptakan maknanya dan menyusun “bentuk gaya bahasanya”. Lalu menisbatkan semua itu dengan kalam Ilahi. Ini adalah sangkaan yang bathil. Sangkaan ini ditolak oleh kenyataan sejarah tentang prilaku Rasulullah SAW, kejujuran dan keterperpacayaannya yang terkenal, yang sudah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan olh kawan-kawanya sendiri. 2. Mereka menyangka bahwa Rasulullah SAW mempunyai ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kakuatan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melaui Ilham (inspirasi) serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf, sehingga Qur’an itu tidak lain dari pada hasil penalaran Intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhmmad dengan gaya bahasa dan Retorikanya sendiri. 3. Kemudian mereka menambahkan bahwa kata hatinya mengalahkan inderanya, sehingga ia berkhayal bahwa dia melihat dan mendengar seseorang berbicara kepadanya. Yang demikian itu suatu kegilaan dan ilusi. Namun mereka terpaksa meninggalkan alasan-alasan itu, ketika mereka melihat didalam Qur’an terdapat segi berita baik berita masa lalu maupun berita masa yang akam datang. Mereka mengatakan : Mungkin berita itu dia peroleh dari seorang manusia diluar Makkah ketika ia pergi berdagang. Imam Sayyid Husain Affandi menjawab dalam kitab “Khusnul Hamidiyyah”, sesungguhnya ada riwayat menjelaskan bahwasannya Nabi keluar dari kota Makkah kenegara Syam untuk berdagang itu selama 2/3 bulan. Waktu yang hanya bisa dipakai untuk perjalanan pulang-pergi dan memenuhui kemaslahatan para pedagang yang lain. Sedangkan mempelajari berita-berita yang ada disyari’atkan beliau membutuhkan waktu sampai bertahun-tahun, meskipun sang guru paling pinternya guru, siapa yang membenarkan bahwa Nabi mempelajari keseluruhan itu dalam tempo yang singkatpadahal beliau adalah Dan adalah Nabi Muhammad membawa syari’at dan menyampaikannya kepada manusia secara berangsur-angsur menurut kemaslahatan, kejadian, pertanyaan, tuduhan dari para musuhnya dsb. Maka dari itu dikatakan kepada mereka : siapa guru (yang mereka tuduhkan) nya Nabi Muhammad dan mengajarinya sebelum pengakuan beliau sebagai utusan, sehingga Nabi mengetahui jawaban setiap pertanyaan yang akan dilontarkan padanya, dan menjawabnya seketika itu? Semoga Allah tetap menunjukkan pada kita jalan keselamatan. Muahammad SAW tumbuh dalam keadaan buta huruf dan tak seorang pun diantara mereka yang membawa simbol Ilmu dan pengajaran, kecuali sedikit. Ini adalah kenyataan yang disaksikan oleh sejarah dan tidak dapat diragukan. Tidak ada dikalangan peneliti yang dapat memberikan kata sepakat yang patut dijadikan saksi bahwa Nabi Muhammad telah menemui guru, karena orang seperti tersebut diatas pastinya terkenal dikalangan orang khusus dan umum. Andaikan guru itu sengaja menyembunyikan identitas dirinya maka itu sulit, karena belajar syari’at seperi ini membutuhkan kontak langsung yang berulang-ulang siang dan malam. Ketika orang dapat menanyakan kepada mereka siapa nama gurunya itu? Kita akan melihat jawaban yang kacau balau, bahwa gurunya itu seorang “Pandai besi Rumawi”. Bagaimana bisa diterima akal ilmu-ilmu Qur’an yang tingkatan fashahan dan Balaghohnya paling tinggi itu datang dari seseorang yang sehari-harinya hanya menekuni palu dan landasan besi, orang awam dengan lidah asing, yang bacaannya dalam bahasa arab hanya mericau saja. Ini merupakan bukti yang kuat bahwa Allah mewahyukan kepadanya Qur’an ini untuk menjadi petunjuk bagu umatnya. Dewasa ini adanya komunikasi antara orang-orang tertentu dengan Allah bukanlah hal yang ganjil karena jiwa ada yang jernih dan ada yang cemerlang, dan ada pula yang kotor dan kelam. Bagi Allah sangat mudah memilih sejumlah jiwa yang dasarnya begitu jernih agar dapat menerima sinar Ilahi dan Wahyu. D. Kesesatan Mutakallimin Para ahli ilmu kalam membagi kalam Allah menjadi dua bagian : kalam Nafsi yang kekal yang ada pada dzat Allah yang tidak berupa huruf, suara, tartib, dan tidak pula bahasa, dan kalam lafdz (Verbal), yaitu yang diturunkan kepada Nabi a.s. Mreka memperkuat pendapat bahwa Qur’an dalam pengertian kalam lafdzi diatas adalah makhluk, sedang bagi kita sudah cukup dengan beriman bahwa kalam itu adalah salah satu sifat diantara sekian sifat Allah. Demikian pula al-Qur’anul Karim (Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad) adalah kalamullah, bukan makhluk. Wallahu Ta’ala A’wam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran