Selasa, 03 Januari 2012

Kodifikasi Al-Qur'an

BAB II PEMBAHASAN 

1 Pengertian Kodifikasi Al-qur’an Pengumpulan (kodifikasi Al-Qur’an) mempunyai 3 pengertian :

 1. Pengumpulan dalam konteks hifdzuhu (menghafal dan mengekspresikannya) Pengumpulan Al-qur’an dalam konteks ini pertama kali terjadi pada masa Rosulullah SAW, sehingga beliau adalah hafidz atau penghafal Al-Qur’an pertama kali. Dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya. Hal ini selaras dengan ayat Al-Qur’an yang Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka itulah bacaannya itu. Kemudian atas tanggungan kamilah penjelasannya (QS. Al Qiyamah (75) : 16-19 ) Metode hafalan Rosulullah SAW : 
 1. Allah sudah menaruh hafalan tersebut di dada Rosul 
2. Malaikat Jibril menurunkan wahyu dan membacakannya 
 3. Nabi mendengarkan dan memperhatikannya 
 4. Setelah itu beliau baru membacanya 

 2. Pengumpulan dalam konteks kitabatuhu kullihi (penulisan Al-Qur’an secara keseluruhan) Keistimewaan-keistimewaan kedua untuk Al-Qur’anul Adzim ini adalah pengumpulan dan penulisannya pada lembaran-lembaran, baik penulisan ini dengan pemisahan ayat-ayat dan surat-suratnya atau menertibkan ayat-ayat semata dan setiap surat ditulis dalam satu lembaran secara terpisah, ataupun menertibkan ayat-ayat dan surat-surat dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua surat sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain. 3. Pengumpulan lewat rekaman bacaan Al-Qur’an (murottal) A. Pengertian Murottal Yang dimaksud dengan pengumpulan lewat rekaman adalah pelestarian Al-qur’an dengan cara merekam dalam pita suara. Sudah diketahui bahwa terdapat hukum-hukum bacaan (tajwid ) yang harus diperhatikan oleh pembacaan Al-Qur’an. Hukum-hukum bacaan tidak mungkin kuat kecuali lewat penerimaan lisan secara langsung. Untuk menguatkan (tahqiq)Hanya bisa lewat media yang merupakan metode para ahli baca Al-Qur’an. Sementara pada masa sekarang, media dan alat perekam suara telah ditemukan dan bacaan bisa diulang kembali. Dalam rangka menyebarkan Al-Qur’an dan mengembangkannya di dunia islam terutama di negr-negri yang kekurangan pakar. Alat tersebut dapat digunakan sebagai media terbaik untuk memelihara dan mempelajari Al-Qur’an. Dan cara pelaksanaan tahapan ini adalah pembacaan yang berulang-ulang dari sang qori’. Al-Murottal berasal dari kata Ratlu As-Syaghri(tumbuhnya sama bagus dengan masaknya, dan merekah atau membelah ). Sedangkan menurut istilah adalah bacaan yang tenang, keluarnya huruf dari makhroj sesuai dengan semestinya yang disertai renungan makna. Ada yang berpendapat bahwa a-murottal adalah menjaga keluarnya huruf-hiruf(makhroj) , memperhatikan waqof-waqof(tanda berhenti ). 


B. Sebab-Sebab Berdirinya Pemikiran-pemikiran yang mendasari kodifikasi Al-Qur’an dalam bentuk rekaman suara di antaranya: 
1. Tuntutan pelestarian Al-Qur’an, dalam hal ini dilakukan lewa cara-cara: a. Kolerasi(tahqiq) terhadao oenerimaan Al-Qur’an lewat lisan yang tidak terhitung oleh para pelajar Al-Qur’an, sementara yang lainnya tidak aman dalam mushaf. b. Pelestarian terhadap bacaan-bacaan yang telah disepakati oleh kaum muslimin. c. Mengahindari bacaan yang lemah yang berkiblat pada seorang ahli baca saja. 
 2. Memudahkan memahami Al-Qur’an serta penghafalnya. 
3. Pentinganya mempertahankan Al-Qur’an dalam menghadapi para pencela Al-Qur’an,serta dalam menghadapi setiap usaha untuk menyelewengkan Al-Qur’an jika setiap halangan yang diletakkan di depan kesatuan pengikut-pengikuatnya, serta di depan penyebarannya, pembagiannya diantara orang-orang islam terhadap Al-Qur’an penyimpangan am melalui studio dll. 
4. Menolong Al-Mushaf AL-Usmani yang telah mempersatukan umat islam. 
5. Menghindari berbagai penyimpangan terhadap Al-Qur’an(oleh sementara orang). 
6. Penyebaran bahasa Al-Qur’an dan memperkokoh persatuan umat islam. 

 C. Sejarah Mushaf Murottal Pada tanggal 14 Romadhon 1378 H di Kairo, di bawah kepemimpinan Ustad Labib As-Sa’I, pertemuan pertama dalam organisasi Pelestarian Al-Qur’an diadakan untuk mengkaji sebuah tema. Maka produksi pertama dimulai pada tahun 1379 H, pada bulan Dzul Qo’dah dan selesai cetakan pertama bulan Muharram 1381 H dengan bacaan Syekh Mahmud Kholil Al Husheri, riwayat Hafshah dan Imam ‘Ashim kemudian pada tahun 1382 H diiringi rekaman bacaan Abu Amr dengan riwayat Ad-Dauri. Perlu kami jelaskan ketiga system pengumpulan tersebut secara terperinci, agar jelas bagi kita, betapa sempurna penjagaan dan perhatian terhadap al qur’an al karim, baik penulisan maupun pembukuannya sebagai kitab Alloh yang suci dan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang abadi, yang tidak dimiliki oleh kitab samawi yang lain. 2.2 Periodesasi Kodifikasi al-Qur’an Didalam periodesasi kodifikasi Al-Qur’an ini terdapat 3 periode : 1. Kodifikasi Al-Qur’an pada masa Rosululloh SAW. A. Latar Belakang Al-qur’an diturunkan pada Nabi yang Ummi sebagaimana Firman Alloh yang Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Jumu’ah : 2) Otomatis, himmah beliau hanya tercurahkan untuk menghafal dan mengekspresikannya, agar beliau dapat menghafalkan sebagaimana diturunkan. Lantas beliau membacakannya kepada manusia agar mereka dapat menghafal dan mengekspresikannya (membacakannya). Oleh sebab itu, beliau adalah Hafidz (penghafal Al-Qur’an) pertama dan merupakan contoh yang paling baik bagi para sahabat dalam menghafalkannya sebagai realisasi kecintaan mereka kepada pokok agama dan sumber masalah. Sebab bangsa Arab secara qodrati memang mempunyai daya hafal yang kuat. Hal itu karena umumnya mereka buta huruf sehingga dalam penulisan berit-berita, syair-syair, dan silsilah mereka lakukan dengan hafalan. Didalam kitab Shohih Bukhori disebutkan ada tujuh penghafal Al-Qur’an pada masa Rosul dalam 3 riwayat yakni: Abdulloh bin mas’ud, Salim bin Maqol(bekas budak abu khudzaifah), Mu’adz bin jabal, Ubay bin ka’ab, Zaid bin tsabit, Abu zaid bin sakan, Abu darda’. Namun 7 orang tersebut bukan menunjukkan pembatasan hafidz pada masa beliau karena kenyataannya para sahabat telah tersebar di pelbagai wilayah dan sebagaian mereka menghafal dari yang lain. Sekretaris wahya yang ditunnjuk langsung oleh Rosul diantaranya: Ali. Mu’awiyyah, Ubay bin ka’ab dan Zai bin tsabit. 

B. Metode Penulisan AL-Qur’an Pada Masa Rosululloh Mereka menulis wahya(Al-Qur’an) pada pelapah kurma, pohon, daun, kulit, tulang. Pengumpulan dan pengurutan Al-Qur’an sesuai dengan instruksiangsung dariAllo dan Roslnya. Sehingga para ulama’ sepakat bahwa kodifikasi Al-Qur’an bersifat Tauqifi yakni urutan-urutan yang sedemikian rupa bedasar perintah dari wahya Alloh SWT. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a, beliau berkata: Artinya : ” Kami disisi Rosululloh SAW. Mengumpulkan Al-Qu’an dari kulit” 

 C. Tujuan Penulisan AL-Qur’an Pada masa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu beliau memerintahkan para sahabat menuliskannya dan beliau menunjukan tempat ayat tersebut dalam surat sehingga penulisa pada lembaran-lembaran itu membantu hafalan mereka Disamping itu agar tidak terjadi pertikaian pendapat di kalangan umatnya tentang urut-urutan Al-Qur’an. 

D. Animo Hafalan Para Sahabat Animo para sahabat untuk menghafal AL-Qur’an sangat tinggi adapun factor pendoronya antara lain: 1. ingatan mereka sangat kuat, instingnya tajam dan hatinya selalubersih. 2. Mereka adalah ummi(tidak liha baca tulis) 3. Iman dan cinta pada Alloh SWT dan Rosul-Nya selaluterpatridalam hatinya 4. Balaghoh yang termaktub dalam Al-Qur’an sangat menarik pertikaan setiap orang 5. Banyak nash yang mendorong mereka uantuk menghafal Al-Qur’an 6. Disyari’tkannya membaca AL-Qur’an dalam sholat dan bangun malam. 

E. Alasan Al-Qur’antida dibukukan pada satu mushaf di zaman Rosul 1. Al-Qur’an tidak diturunkan satu kali melainkan seara berangsur-angsur sehingga tidak mungkin untuk mengumpulkannya sebelum semua diturunkan. 2. Sebagain ayat-ayat Al-Qur’an ada yang dinaskh. Jika demikian bagaimana mungkin dapat dikumpulkan dalam satu mushaf. 3. Urutan ayat dan surat tida sesuai urutan turunnya. Kadang ada sebagaianayatyang diturunkan pada akhir wahyu, akan teapi justru urutannya terletak pada ermulan-permulaan surat. Hal ini memungkinkan terjadi perubahan penulisan. 4. Jarak waktu antara akhir turunnya wahyu dengan wafat Rosululloa relatif singkat (9 hari) 5. Tidak ada alasan untuk mengumpulkannya menjadi satu mushaf sebagaimana di zaman kholifah Abu bakar As-Shiddiq. Kondisi kaum muslimin relative stabil, para Qurro’ begitu banyak serta terjaga darifitnah. Berbeda dengan zaman Abu baker dimana banyak yang terbunuh sehingga mengkhawatirkan hilangnya Al-Qur’an. Sehingga jika dikumpulkan dalam satu mushaf padahal situasi dan kondisinya saat itu tentu saja Al-Qur’an terpaksa diubah-ubah/diganti-ganti manakala terjadi naskh/sebabbaru. Padahal alat-alat tulis masih belum memadai. Adapun pengumpulan Al-Qur’an ada masa Rosululloh ini dinamakan penulisan dan pembukuan pertama (penyusunan surat danayat secara sistematis) 2. Pengumpulan Al Qur’an pada Masa Abu Bakar 

 A. Latar Belakang Setelah Rosulullah wafat sebagian bangsa arab ada yang murtad sehingga Abu Bakar berperan besar dalam menghadapi peristiwa tersebut. Karena itu beliau segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang murtad tersebut dan terjadilah peperangan Yamamah pada tahun 12 H yang melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal AL-Qur’an dalam peperangan tersebut gugurlah 70 hafidz. Umar bin Khattab meras sangat khawatir melihat kenyataan ini kalau beliau menghadap Abu Bakar dan mengusulkan pengumpulan serta pembukuan Al Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah sebab peperangan Yamamah yang banyak menelan korban dari kalangan shohabat yang khufadz. Awalnya Abu Bakar menolak, tetapi Umar mendesaknya sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut. Kemudian Abu Bakar menitahkan Zaid bin Tsabit. Untuk membukukan Al Qur’an, awalnya beliau menolak instruksi dan Abu Bakar singkat cerita Zaid pun menerima instruksi tersebut. Hal ini sebagaimana diceritakan dalam hadist riwayat Bukhori dan Zain bin Tsabit. B. Inisiatif Zaid bin Tsabit dalam Pengumpulan Al Qur’an I. Faktor terpilihnya Usman bin Affan sebagai pengemban pembukaan Al Qur’an 1. Termasuk Hafidzul Qur’an 2. Penulis Wahyu Rosul 3. Saksi sisi akhir Al Qur’an menjelang detik-detik akhir 4. Terkenal dengan sifat-sifat yang baik yakni wira’i, jujur, sempurna, lurus agamanya dan cerdas II. Metode Zaid dalam Pengambilan Al Qur’an Sudah dimaklumi bahwa Zaid Nafal seluruh Al Qur’an, serta Al Qur’an, serta Al Qur’an juga ditulis olehnya. Namun pada penulisan tersebut, beliau tidak hanya berdasar pada hafalannya sendiri juga disertai sumber-sumber sebagai berikut : 1. Hafalan para hufadz 2. Suhuf-suhuf yang ditulis sahabat dihadapan Rosul (Seperti mushaf Ali, mushaf Ubay, mushaf Masud) 3. Disertai 2 saksi 4. Mushaf yang tersimpan dirumah Rosulullah III. Keistimewaan Pembukuan Al Qur’an pada Masa Abu Bakar Keistimewaan pengumpulan Al Qur’an pada periode ini adalah : 1. Dilakukan atas cara-cara pembahasan dan penelitian yang mendalam 2. Nasikh (penghapusan) terhadap bacaan ayat-ayat tertentu tidak dicantumkan 3. Dialek arab yang dipakai ada 7 dialek (Qiro’ah) 4. Urutan ayat-ayat Al Qur’an dalam pengumpulan ini telah disepakati 5. Para ulama’ sepakat bahwa Al Qur’an ditulis satu Naskah dalam pengumpulan ini dan disimpan oleh Abu Bakar 6. Suksesnya pengumpulan pada masa ini berkat adanya kesempatan umat dan kemufawatirannya C. Tujuan Pembukuan Al Qur’an Periode Kedua Adapun tujuan pembukuan Al Qur’an pada masa Abu Bakar adalah untuk menjaga keeksisan Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang diturunkan pada Rosul-Nya Muhammad SAW. Dengan pembukuan Al Qur’an menjadi satu mushaf ini maka para sahabat lebih muda untuk mempelajari dan menghafalkannya. 3. Pengumpulan (Kodifikasi) Al Qur’an pada Masa Usman bin Affan A. Latar Belakang Adapun yang melatar belakangi kodifikasi Al Qur’an pada periode tiga ini tidak sebagaimana pada periode sebelumnya. Penyebaran Islam, bertambah luas dan para Qurra’ pun tersebar dipelbagai wilayah. Mereka semakin mengajarkan Al Qur’an pada penduduk sesuai dialek mereka masing-masing. Oleh karenanya, penduduk syam membaca Logut dengan bacaan Ubay bin Ka’ab. Penduduk Iraq dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud. Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut adalah Mudzaifah bin Al-Yaman. Beliau melihat banyak terjadi perbedaan dan bacaan-bacaan Al Qur’an pada mereka sehingga dengan perbedaan tersebut perselisihan yang amat dahsyat. Sebagian mereka mengkafirkan yang lain. Lalu beliau menghadap Usman dan mengabarkan kenyataan yang memprihatinkan ini. Akhirnya para sahabat sepakat untuk melakukan kemudian Usman meminjam mushaf tersebut dari Hafsah. B. Panitia Penyalinan Usman r.a memilih 4 orang sahabat yang menjadi panitia penyalinan mushaf, mereka adalah : 1. Zaid bin Tsabit (sebagai Kepala) dari golongan Anshar 2. Abdullah bin Az-Zubair 3. Sa’id bin Al-Ash 4. Abdurrahman bin Al-Harits bin Al Hisyam Usaha yang amat mulia ini terjadi pada tahun 25 H. Adapun mushaf-mushaf salinan ini disebar ke berbagai kota yaitu Kufah, Bashrah, Damaskus, Makkah, Madinah dan Khalifah Utsman menyisakan satu mushaf untuk dokumen pribadinya yang terkenal dengan mushaf induk. 

C. Proses Penyalinan pada Masa Usman 1. Beliau berpidato yang isinya menyuruh sahabat yang hafal Al Qur’an dan yang mempunyai mushaf Al Qur’an menemui beliau serta bersumpah dan disertai dua saksi 2. Beliau meminta Sayyidah Hafsah untuk mengirim mushaf yang ada padanya 3. Mushaf tersebut disyahkan oleh panitia penyalinan 4. Beliau menyuruh mereka menyalin ke beberapa mushaf, jika ada perbedaan dialek, maka dialek Quraisy yang dimenangkan 5. Beliau menyuruh membakar mushaf-mushaf lain, sehingga hanya mushaf Utsman yang dipakai 

 D. Keistimewaan Diantara keistimewaan pengumpulan Al Qur’an diperiode terakhir ini antara lain : 1. Menyatukan kaum Muslimin pada satu macam mushaf ang seragam ejaan tulisannya 2. Menyatukan bacaan dan walaupun masih ada perbedaan bacaan hal itu tidak sesuai dengan ejaan mushaf-mushaf Utsman tidak diperbolehkan lagi 3. Menyatukan tertib susunan surat-surat menurut tertib urut sebagaimana yang ada pada saat ini Dana pengumpulan periode Utsman ini adalah periode penggandaan dan penyebaran ke berbagai kota 2.3 Perbedaan antara Periode Kodifikasi Al Qur’an Adapun diantara pembukuan satu dengan yang lain yaitu : 1. Pada pembukuan pertama yang terjaid pada masa Rasulullah Kodifikasi Al Qur’an merupakan upaya penulisan dan pembukuan Al Qur’an yang sistematis 2. Pada pembukuan kedua yang terjadi pada masa khalifah Abu Bakar merupakan upaya penyatuan mushaf Al Qur’an yang masih tercecer pada masa Rasulullah serta bentuk penjagaan Al Qur’an supaya tidak hilang. 3. Pembukuan ketiga yang terjadi pada masa khalifah Utsman bin Affan adalah upaya penyatuan bacaan Al Qur’an dan penyebaran Al Qur’an diberbagai kota. Dengan adanya berbagai macam upaya dalam pembukuan Al Qur’an ini baik dari aspek hafalan penulisan. Maupun murattal hingga prosesnya terjadi pada 3 periodesasi maka tetaplah keberadaan Al Qur’an hingga akhir masa dan hal ini selaras dengan firman Allah  Artinya : ”Sesungguhnya telah kami turunkan peringatkan (Al Qur’an) dan sesungguhnya kami memelihara (QS. Al-Hijr : 9) Jelas tidak diragukan lagi, bahwa itu semua merupakan pertolongan Allah ’azza wa jalla khusus untuk kitab suci yang sekaligus merupakan tanda kemuliaan bagi umat Muhammad SAW, diamana Dia telah menjadikan pelita pada dad-dad mereka, serta memberi mereka kita yang tidak luntur dibasuh oleh air. 2.4 Penertiban Ayat dan Surah A. Tertib Ayat Qur’an terdiri dari atas surah-surah dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Ayat adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah Surah dari Qur’an. Surah adalah sejumlah ayat Qur’an yang mempunyai permulaan dan akhiran. Tertib atau urutan-ururtan ayat Qur’an ini adalah tauqifi. Ketentuan dari Rasulullah, dan hal ini sudah menjadi ijma’ dikalangan para kaum Muslimin. Usman bin Abil Ash berkata Artinya : Aku tengah duduk disamping Rasulullah, tiba-tiba pandangannya menjadi tajam kembali seperti semula. Kemudian beliau berkata, jibril telah datang kepadaku dan memerintahkan agar aku meletakkan ayat ini ditempat dari surah ini “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kaum kerabat..” (An-Nahl, 16 : 90). B. Tertib Surah Berbeda dengan penertiban ayat-ayat Qur’an yang mana seluruh kaum muslimin sepakat bahwa penertiban ayat adalah bersifat tauqifi. Adapun penertiban surah-surah Al Qur’an masih terjadi perdebatan dikalangan para ulama. 1. Bersifa tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi sebagaimana diberitahukan jibril kepadanya atas perintha Allah. Dengan demikian, Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagian tertib ayat-ayatnya seperti yang ada ditangan kita sekarang ini, yaitu tertib mushaf Usman yang tidak ada seorang shahabat pun menentangnya. 2. Ijtihad para sahabat, mengingat adanya perbedaan tertib didalam mushaf-mushaf mereka misalnya :  Mushaf Ali disusun menurut tertib Nuzul, yakni dimulai dengan Iqra’ lalu mudatsir, lalu Nun, Qalam, kemudian Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surat Makki dan Madani  Mushaf Mas’ud yang pertama ditulis adalah surah Al-Baqarah, kemudian Nisa dan kemudian Ali Imrah  Mushaf Ubai yang pertama ditulis ialah Fatihah, Baqarah, kemudian Nisa’ kemudian Ali Imrah 3. Sebagian tauqifi dan sebagian lainnya ijtihadiy hal karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surah pada masa Nabi, misalnya keterangan yang menunjukkan tertib As-Sabut tiwal, al-hawanim dan al-mufassad pada masa hidup Rasulullah. Namun kebanyakan para ulama’ lebih cenderung pada pendapat yang pertama seperti Abu Bakar Ibnul Anbari, Al-Kirmani dan As-Suyuti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran